Ranah Kognitif

Sabtu, 29 September 2012


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah swt. Karena atas rahmat dan hidayah-Nya makalah ini bisa diselesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Makalah ini selain ditulis untuk memenuhi salah satu tugas yang diajukan oleh dosen pembimbing juga untuk menambah pengetahuan penyusun dibidang evaluasi pendidikan.
Salawat dan salam semoga tercurah llimpah kepada baginda alam nabi Muhammad saw. Karena atas jasa-jasa beliau dalam menyampaikan risalah, kita bisa hijrah dari dunia kegelapan menuju terang benderang.
Dalam makalah ini disajikan beberpa pembahasan mengenai evaluasi pembelajaran atau lebih spesifiknya mengenai ranah konitif, namun terlepas dari itu dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak sekali kekurangan baik dari segi materi, penulisan, maupun kata-kata. Oleh karena itu dengan segala kerendahan penyusun sangat mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat konstruktif untuk memperbaiaki tulisan-tulisan selanjutnya.
Penyusun juga haturkan banyak terimakasih kepada rekan-rekan terutama dosen pembimbing yang memberikan kepercayaan kepada penyusun untuk membuat makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun umumnya bagi para pembaca.


Bandung, 04-05-2012


Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
selama ini kita mengenal Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu: Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin. Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

B.     Rumusan Masalah
1.      apa yang dimaksud dengan ranah kognitif?
2.      bagaimana perilaku atau tipe yang terdapat dalam ranah kognitf?
3.      bagaimana instrument penilaian dalam ranah kognitif?

C.    Tujuan
 Adapun tujuan disusunnya makalah ini yaitu:
1.      Mengetahui pengertian kognitif
2.      Mengetahui cirikhas perilaku yang terdapat dalam ranah kognitif
3.      Mengetahui instrumrn penilaian dalam ranah kognitif



BAB II
PEMBAHASAN

Sebuah tujuan yang dapat dibenarkan dalam pendidikan ialah penambahan pengetahuan atau memperbanyak jumlah informasi yang dapat dipergunakan. Tepatnya dapatlah dikatakan, bahwa memiliki pengetahuan yang luas berarti sanggup memberikan sambutan-sambutan terhadap berbagai situasi dalam berbagai cara[1]. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, penggolongan atau tingkatan jenis perilaku belajar terdiri dari tiga ranah atau kawasan yaitu:
a.              Ranah kognitif (Bloom dkk.), yang mencakup enam tingkatan perilaku,
b.             Ranah afektif (Krathwohl, Bloom dkk.), yang mencakup lima jenis perilaku,
c.              Ranah psikomotor (Simpson), yang terdiri dari tujuh perilaku atau kemampuan psikomotorik[2].
Namun di dalam makalah ini hanya akan menitik beratkan pada pembahasan ranah kognitif sebagai berikut.

A.           Pengertian ranah kognitif
Ranah kognitif berkenaan dengan dengan hasi belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek , yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi[3]. Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.  Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi[4]. Dari uraian di atas dapat kita[5] simpulkan bahwa ranah kognitif adalah hasil belajar yang menitikberakan pada kemampuan otak, sehingga peserta didik mampu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, sintesis, dan mengevaluasi.

B.            Ranah kognitif
1.             Tipe hasil belajar; pengetahuan
Istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata knowledge dalam taksonomi bloom. Sekalipun demikian, maknanya tidak sepenuhnya tepat sebab dalam istilah tersebut termasuk pula pengetahuan factual di samping pengetahuan hafalan atau untuk diingat seperti rumus, batasan, definisi, istilah,  pasal dalam undang-undang, nama-nama tokoh, nama-nama kota. Dilihat dari segi proses belajar, istilah-istilah tersebut memang perlu dihafal dan diingat agar agar dapat dikuasai sebagai dasar bagi pngetahuan atau pemahaman konsep-konsep lainnya.  Ada beberapa cara untuk mengingat dan menyimpannya dalam ingatan  seperti teknik memo, jembatan keledai, mengurutkan kejadian, membuat singkatan yang bermakna. Tipe hasil belajar pengetahuan termasuk kognitif tingkat rendah yang paling rendah. Namun tipe hasil belajar ini menjadi prasarat bagi tipe hasil belajar berikutnya.  Hal ini berlaku bagi setiap bidang studi, baik bidang matematika, pengetahuan alam, ilmu social, maupun bahasa[6]. Karena pengetahuan atau knowledge bloom lebih banyak berhubungan dengan  dengan ingatan maka dapat dikelompokkan sebagai belajar mneghafal (rote learning)[7].
Menyusun tes item tes pengetahuan hafalan
            Tidaklah terlalu sukar untuk menyusun item tipe ini. Malahan para penyusun tes hasil belajar, secara tidak sengaja banyak tergelinciratau terpeosok termasuk dalam kawasan ini. Dilihat dari bentuknya, tes yang paling banyak dipakai untukmengungkapkan aspek pengetahuan adalah tipe melengkapi, tipe isian, dan tipe benar salah. Karena lebih mudah menyusunnya, orang banyak memilih tipe benar salah. Karena kurang dipersiapkan dengan baik, banyak tes yang ditulissecara tergesa-gesa sehingga terperosok ke dalam pengungkapan  pengetahuan hafalan saja. Siswa hanya dituntut kesanggupan mengingatnya sehingga jawabannya mudah ditebak[8].

Pengetahuan ini dapat dirinci sebagai berikut:
a.       Terminologi
Kemampuan yang paling besar ialah mengetahui arti tiap kata.
b.      Fakta-fakta lepas (isolated facts)
Setelah mengetahui prinsip-prinsi atau konsep-konsep bahasa, anak menanjak pada pengetahuan akan fakta-fakta lepas. Fakta yang diketahuinya tetap berdiri sendiri tanpa dihubungkan dengan fakta atau gejala lainnya.
c.       Universal dan abstraksi
Pengetahuan akan bagan-bagan dan pola-pola utama yang dipakai untuk mengorganisasikan fenomena-fenomena. Termasuk dalam kelompok ini adalah:
       1) prinsip-prinsip dan generalisasi
Siswa diharuskan menguasai prinsip-prinsip atau generalisasi tertentu yang dihubungkan dengan bahan pengetahuan lain.
       2) teori
Teori merupakan perumusan-perumusan yang paling abstrak, dan dapat menunjukan saling berhubungan dan organisasi dari hal-hal yang khusus[9].

2.             Tipe hasil belajar: pemahaman
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi.  Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan[10].
Tipe hasil belajar ini lebih tinggi tingkatannya dari yang pertama. Pemahaman dapat dibedakan ke dalam tiga kategori.
Tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan dalam arti yang sebenarnya, misalnya dari bahasa inggris ke dalam bahasa indonesia, megartikan bhineka tunggal ika, mengartikan merah putih, menerapkan prinsip-prinsip listrik dalam memasang sakelar.
Tingak ke dua adalah pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok. Menghubungkan pengetahuan tentang konjugasi kata kerja, subjek, dan possessive pronoun sehingga tahu menyusun kalimat.
Pemahaman tingkat ke tiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Dengan ekstra polasi diharapkan seseorang mampu melihat balik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas presepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus, ataupun maslahnya.
Meskipun pemahaman dapat dipilahkan menjadi tiga tingkatan di atas, perlu disadari bahwa menarik garis yang tegas antara ketiganya tidaklah mudah. Penyusun tes dapat membedakan item yang susunannya termasuk sub kategori tersebut. Tetapi tidak terlalu berlarut-larut mempermasalahkan ketiga perbedaan itu. Sejauh dengan mudah dapat dibedakan antara pemahaman terjemahan terjemahan, penafsiran, dan eksplorasi, bedakanlah untuk kepentingan penyusunan soal tes hasil belajar[11].  
3.                  Tipe hasil belajar: aplikasi
Aplikasi atau penerapan adalah abilitet untuk merinci bahan menjadi bagian-bagian supaya struktur organisasinya mudah dipahami, meliputi identifikasi bagian-bagian, mengkaji hubungan antara bagian-bagian, mengenali prinsip-prinsip organisasi. Contohnya menyadari asumsi-asumsi, menyadari logika dalam pemikiran, membedakan fakta dan iterferensi[12].
Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus. Abstarksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petujnuk teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi. Mengulang-ulang menerapkannya pada situasi lama akan beralih menjadi pengetahuan hafalan atau keterampilan. Suatu situasi akan tetap dilihat sebagai situasi baru bila tetap terjadi proses pemecahan masalah. Kecuali itu, ada satu unsure lagi yang perlu masuk, yaitu abstraksi tersebut perlu berupa prinsip atau generalisasi, yakni sesuatu yang umum sifatnya untuk diterapkan pada situasi khusus.
Mengetes aplikasi
Bloom membedakan delapan tipe aplikasi yang akan dibahas atu persatu dalam rangka menyusun item tes aplikasi.
1)   Dapat menetapkan prinsip atau generalisasi yang sesuai untuk situasi baru yang dihadapi. Dalam hal ini yang bersangkutan belum diharapkan dapat memecahkan seluruh problem, tetapi sekadar dapat menetapkan prinsip yang sesuai.
2)   Dapat kembali menyusun problemnya sehingga dapat menetapkan prinsip atau generalisasi mana yang sesuai.
3)   Dapat memberikan spesifikasi batas-batas relevansi auatu prisnip atau generalisasi.
4)   Dapay mengenali hal-hal khusus yang terpampang dari prinsip dan generalisasi.
5)   Dapat menjelaskan ssuatu gejala baru berdasarkan prinsip dan generalisasi tertentu. Bentuk yang banyak dipakai adalah melihat hubungan sebab akibat. Bentuk lain adalah dapat menanyakan tentang proses erjadinya atau kondisi yang mungkin berperan bagi terjadinya gejala.
6)   Dapat meramalkan sesuatu yang terjadi berdasarkan prinsip dan generalisasi tertentu.  Dasr untuk membuat ramalan diharapkan  dapat ditunjukan berdasarkan perubahan kualitatif,  mungkin pula berdasarkan perubahan kuntitatif.
7)   Dapat menentukan tindakan atau keputusan tertentu dalam menghadapi situasi baru dengan menggunakan prinsip dan generalisasi yang relevan. Kemampuan aplikasi tipe ini lebih banyak diperlukan oleh ahli-ahli ilmu osial dan para pembuat keputusan.
8)   Dapat menjelaskan alasan-alasan mneggunakan prisip dan generalisasi bagi situasi baru yang dihadapi[13].

4.                  Tipe hasil belajar: analisis
Analisis mencakup kemampuan merinci sutu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik[14].
Bila kecakapan analisis telah dapat berkembang pada seseorang, maka ia akan dapat menaplikasikannya pada situasi baru secara kreatif.
Mengetes kecakapan analisis
Untuk membuat item tes kecakapan analisis perlu mengenal berbagai kecakapan yang termasuk klasifikasi analisis, yakni:
1)   Dapat mengklasifikasikan kata-kata, frase-frase, atau pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan criteria analitik tertentu.
2)   Dapat meramalkan sifat-sifat khusus tertentu yang tidak disebutkan secara jelas.
3)   Dapat meramalkan kualitas, asumsi, atau kondisi yang implicit atau yang perlu ada berdasarkan criteria dan hubungan materinya.
4)   Dapat mengetengahkan pola, tata, atau pengaturan materi dengan menggunakan criteria seperti relevansi, sebab akibat, dan peruntutan.
5)   Dapat mengenal organisasi, prinsip-prinsip organisasi, dan pola-pola materi yang dihadapinya.
6)   Dapat meramalkan sudut pandangan, kerangka acuan, dan tujuan material yang dihadapinya[15].

5.                  Tipe hasil belajar: sintesis
Sintesis adalah abilitet mengkombinasikan bagian-bagian menjadi suatu keseluruhan baru, yang menitikberatkan pada tingkah laku kreatif dengan cara memformulasikan pola dan struktur baru. Contoh: menulis cerita pendek yang kretif, menyusun rencana eksperimen, menggunakan bahan-bahan untuk memecahkan masalah[16].
Mengetes aplikasi
Kecakapan sintesis dapat diklasifikasikan ke dalam beberpa tipe. Kecakapan tipe yang pertama adalah kemampuan menemukan hubungan yang unik. Artinya, menemukan hubungan antara unit-unit yang tak berarti menambahkan satu unsure tertentu, unit-unit yang tak berharga mnejadi sangat berharga. Termasuk kecakapan ini adalah kemampuan mengkomunikasikan gagasan, perasaan, dan pengalaman, dalam bentuk tulisan, gambar, symbol ilmiah, dan yang lainnya. Kecakapan sintesis yang kedua adalah kemampuan menyusun rencana atau langkah-langkah operasi dari suatu tugas atau problem yang diketengahkan.  Dalam rapat bermunculan berbagai hal. Seorang anggota rapat mengusulkan tahap-tahap urutan atau langkah-lagnkah pembahasan dan penyelesaiannya. Hal itu merupakan merupakan sitesis tipe kedua. Kecakapan sintesis yang ketiga adalah kemampuan mengabstraksi sejumlah besar gejala, data, dan hasil observasi menjadi terarah, proporsional, hipotesis, skema, model, atau bentuk lain[17].

6.                  Tipe hasil belajar: evaluasi
Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi jurusan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, materil, dll..dilihat dari segi tersebut maka dalam evaluasi perlu adanya suatu criteria standar tertentu. Dalam tes esai, standar atau criteria tersebut muncul dalam bentuk frase “menurut pendapat saudara” atau ‘ menurut teori tertentu”. Frase yang pertama sukar diuji mutunya, setidak-tidaknya sukar diperbandingkan atau lingkupan variasi kriterianya sangat luas. Frase yang kedua lebih jelas standarnya untuk mempermudah mengetahui tingkat kemampuan evaluasi seseorang, item tesnya harus menyebutkan criteria secara eksplisit.
Mengetes kecakapan evaluasi
Kecakapan seseorang setidaknya dapat dikategorikan kedalam enam tipe:
1)                  Dapat memberikan evaluasi tentang ketepatan suatu karya atau dokumen.
2)                  Dapat memberikan evaluasi satu sama lain antara asumsi, evidensi, dan kesimpulan, juga keajegan logika dan organisasinya. Dengan kecakapan ini diharapkan seseorang mampu mengenal bagian-bagian serta keterpaduannya.
3)                  Dapat memahami nilai serta sudut pandang yang dipakai orang dalam mengambil suatu keputusan.
4)                  Dapat mengevaluasi suatu karya dengan membandingkannya dengan karya lain yang relevan.
5)                  Dapat mengevaluasi suatu karya dengan menggunakan criteria yang telah ditetapkan.
6)                  Dapat memberikan evaluasi tentang suatu karya dengan menggunakan sejumlah criteria yang eksplisit[18].
Tabel  kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek kognitif[19]
No
Tingkatan
Deskripsi
1
Pengetahuan
Arti: pengetahuan terhadap fakta, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, teori, prosedur,dll.
Contoh kegiatan belajar:
·                Mengemukakan arti
·                Menentukan lokasi
·                Mendriskripsikan sesuatu
·                Menceritakan apa yang terjadi
·                Menguraikan apa yang terjadi
2
Pemahaman
Arti:pengertian terhadap hubungan antar-faktor, antar konsep, dan antar data hubungan sebab akibat penarikan kesimpulan
Contoh kegiatan belajar:
v  Mengungkapakan gagasan dan pendapat dengan kata-kata sendiri
v  Membedakan atau membandingkan
v  Mengintepretasi data
v  Mendriskripsikan dengan kata-kata sendiri
v  Menjelaskan gagasan pokok
v  Menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri
3
Aplikasi
Arti: menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari
Contoh kegiatan:
·                Menghitung kebutuhan
·                Melakukan percobaan
·                Membuat peta
·                Membuat model
·                Merancang strategi
4
Analisis
Artinya: menentukan bagian-bagian dari suatu masalah, penyelesaian, atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar bagian tersebut
Contoh kegiatan belajar:
Ø  Mengidentifikasi faktor penyebab
Ø  Merumuskan masalah
Ø  Mengajukan pertanyaan untuk mencari informasi
Ø  Membuat grafik
Ø  Mengkaji ulang
5
Sintesis
Artinya: menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan/konsepatau meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru
Contoh kegiatan belajar:
·          membuat desain
·          menemukan solusi masalah
·          menciptakan produksi baru,dst.
6
Evaluasi
Arti: mempertimbangkan dan menilai benar-salah, baik-buruk, bermanfaat-tidak bermanfaat
Contoh kegiatan belajar:
*      Mempertahankan pendapat
*      Membahas suatu kasus
*      Memilih solusi yang lebih baik
*      Menulis laporan,dst.


C.           Instrumen penilaian ranah kognitif[20]
Instrumen penilaian  yang dapat dipakai dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dapat terkait dengan ranah kognitif ataupun psikomotor, antara lain yaitu sebagai berikut.
1)        Kuis: waktu yang diperlukan relatif singkat, kurang lebih 15 menit dan hanya menanyakan hal-hal yang prinsip saja dan bentuknya berupa jawaban singkat dengan tingkat berpikir rendah. Biasanya kuis diberikan sebelum pelajaran baru dimulai, untuk mengetahui penguasaan pelajaran yang lalu secara singkat. Namun bisa juga kuis diberikan setelah pembelajaran selesai, yaitu untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap bahan ajar yang baru diajarkan. Bila ada bagian pelajaran yang belum dikuasai, sebaiknya guru menjelaskan kembali dengan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda.
2)        Pertanyaan lisan di kelas: materi yang ditanyakan berupa pemahaman terhadap konsep, prinsip, atau teorema. Teknik bertanya yang baik adalah mengajukan pertanyaan ke kelas, memberi waktu sebentar untuk berpikir, dan kemudian memilih peserta didik secara acak untuk menjawab. Jawaban peserta didik benar atau salah selalu diberikan ke peserta didik lain atau minta pendapatnya terhadap jawaban peserta didik yang pertama. Kemudian guru menyimpulkan tentang jawaban peserta didik yang benar. Pertanyaan lisan ini bisa dilakukan di awal pelajaran, di tengah,  atau di akhir pelajaran. Dalam arti  kata bahwa pertanyaan bisa diberikan sepanjang kegiatan pembelajaran berlangsung.
3)        Ulangan harian : ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar (kd) atau lebih. Bentuk soal yang digunakan sebaiknya bentuk uraian objektif atau yang non-objektif. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya mencakup sampai ke tingkat berpikir tinggi.
4)        Tugas individu : tugas individu dapat diberikan setiap minggu dengan bentuk tugas/soal uraian objektif atau non-objektif. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya aplikasi, analisis, bila mungkin sampai sintesis dan evaluasi. Tugas individu untuk mata pelajaran tertentu dapat terkait dengan ranah psikomotor, seperti menugasi peserta didik untuk melakukan observasi lapangan dalam geografi atau menugasi peserta didik untuk berlatih tari dan musik pada pelajaran seni budaya.
5)        Tugas kelompok : tugas kelompok digunakan untuk menilai kemampuan kerja kelompok. Bentuk soal yang digunakan adalah uraian dengan tingkat berpikir yang tinggi yaitu aplikasi sampai evaluasi. Bila mungkin peserta didik diminta untuk menggunakan data sebenarnya, melakukan pengamatan terhadap suatu gejala, atau merencanakan sesuatu proyek. Proyek pada umumnya menggunakan data sesungguhnya dari lapangan. Seperti halnya tugas individu, tugas kelompok dapat terkait dengan ranah psikomotor.
6)        Laporan kerja praktik atau laporan praktikum : bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya, seperti fisika, kimia, dan biologi. Peserta didik bisa diminta untuk mencatat dan melaporkan hasil praktik yang telah dilakukan.
7)        Responsi atau ujian praktik : bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya, seperti fisika, kimia, dan biologi yaitu untuk mengetahui penguasaan akhir baik dari ranah kognitif maupun psikomotor. Ujian responsi bisa dilakukan diawal praktik atau setelah melakukan praktik. Ujian dilakukan sebelum praktik bertujuan untuk mengetahui kesiapan peserta didik melakukan praktik di laboratorium, sedang bila dilakukan setelah praktik, tujuannya untuk mengetahui kompetensi dasar praktik yang dicapai peserta didik dan yang belum.
8)        Tingkat berpikir peserta didik yang terlibat dalam mengerjakan tugas-tugas dalam sistem penilaian yang berbasis kompetensi meliputi: tingkat berpikir yang berkait dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berisi tentang konsep, prinsip, dan fakta-fakta, sedang prosedural mencakup proses, strategi, aplikasi, dan keterampilan.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.  Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi.
ranah kognitif meliputi:
  1. Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya, misalnya fakta, rumus, terminologi strategi problem solving dan lain sebagianya.
  2. Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan
    pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri.
  3. Tingkat penerapan (application), penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi yang baru, serta memecahlcan berbagai masalah yang timbuldalam kehidupan sehari-hari.
  4. Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan
    mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi. Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari.
  5. Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh.
  6. Tingkat evaluasi (evaluation), evaluasi merupakan level tertinggi yang mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu.
Bentuk tes kognitif diantaranya; (1) tes atau pertanyaan lisan di kelas, (2) pilihan ganda, (3) uraian obyektif, (4) uraian non obyektif atau uraian bebas, (5) jawaban atau isian singkat, (6) menjodohkan, (7) portopolio dan (8) performans.
B.     Saran
Dalam penyusunan makalah ini banyak sekali terdapat kekurangan baik dari segi materi, penulisan maupun kata-kata, Oleh karena itu dengan segala kerendahan penyusun sangat mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat konstruktif untuk memperbaiaki tulisan-tulisan selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA

Aunurrahman.(2010). Belajar Dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Hamalik, Oemar.(1999). Kurikulum Dan Pembelajaran.jakarta: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Pt. Putra Rosdakarya.
 Sukmadinata, Nana Syaodih.(2006).Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.Bandung:Rodakarya
Whitherington.(1985).Psikologi Pendidikan.Jakarta: Aksara Baru.





[1] Whitherington.(1985).Psikologi Pendidikan.Jakarta: Aksara Baru. Hlm.166
[2] Dr. Aunurrahman, M.Pd.(2010). Belajar Dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Hlm.49
[3] Dr. Nana Sudjana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Pt. Putra Rosdakarya.Hlm.22.

[6] Dr. Nana Sudjana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Putra Rosdakarya.Hlm.23.
[7] Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata.(2006).Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.Bandung:Rodakarya
[8] Dr. Nana Sudjana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Putra Rosdakarya.Hlm.24.
[11] Dr. Nana Sudjana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Putra Rosdakarya.Hlm.24.
[12] Dr. Oemar Hamalik.(1999). Kurikulum Dan Pembelajaran.jakarta: Bumi Aksara.hlm.80.
[13] Dr. Nana Sudjana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Putra Rosdakarya.Hlm.26.
[14] Dr. Aunurrahman, M.Pd.(2010). Belajar Dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. hlm.49.
[15] Dr. Nana Sudjana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Putra Rosdakarya.Hlm.27.
[16] Dr. Oemar Hamalik.(1999). Kurikulum Dan Pembelajaran.jakarta: Bumi Aksara.hlm.80.
[17] Dr. Nana Sudjana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Putra Rosdakarya.Hlm.28.
[18] Dr. Nana Sudjana.(2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Putra Rosdakarya.Hlm.29.

1 komentar:

Gugun R Hidayat mengatakan...

Boleh nie arikelnya . . .
Kpan - kpan pengen diskusi bareng nie . . . :)

Poskan Komentar

Categories

Blog Archive