Tetntang Binder

Minggu, 17 Maret 2013



Binder, bukan bunder. Berbicara masalah binder saya punya cerita tersendiri, ceritanya ya pasti ada hubungannya dengan perkuliahan. Alasan saya menggunakan binder terinspirasi oleh salah seorang kaka tingkat yang beda jurusan, menurut dia kalau kita pake binder catatan akan terlihat rapi apalagi kalau tiap semester ganti akan terlihat hasil kita belajar tiap semesternya, lumayan bisa diterima alasannya, akhirnya saya juga memutuskan untuk menggunakan binder di setiap semester.

Namun berbeda dengan saya, pada perkuliahan tingkat pertama binder saya tertata begitu rapi, setiap matakuliah dipisahkan oleh pembatas yang sengaja dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak terlihat acak-acakan, pembatasnya pun sengaja saya print, catatan materinya juga penuh, samapi harus beli kertasnya lagi.
Pada perkuliahan tingkat ke dua pembatas binder saya dibatasi oleh kertas yang saya sobek lalu ditempel dan diberi nama mata kuliah terlebih dahulu,
isinya tidak terlalu penuh, bahkan ada sisia dan digunakan untuk semester yang akan datang, mungkin ini pertanda saya jarang mencatat materi, dan memang iya.
Pada tingkat ketiga saya tidak sempat membatasi binder saya, niatan sih ada tapi selama perkuliahan berlangsung, dan sampai akhir semester pun belum dibatasi, saya menulis di mana saja tanpa memisahkannya berdasarkan mata kuliah, hal ini terjadi pada semester ganjil dan genap, dan isinya pun semakin sedikit, ditambah dengan tulisan saya yang memiliki ciri khas, yaitu tidak bisa dibaca oleh saya sendiri dan juga orang lain, plus acak-acakan.
Kalau teman saya pinjam untuk melihat catatan, biasanya dia pusing sendiri dan terlihat sedikit jengkel dan tak lama kemudian dia mengemblikannya kepada saya dengan ucapan “meni teu kaharti tulisan teh”, sama sekali bukan ucapan terima kasih, biasanya perempuan yang pinjem karena mereka identik lebih rajin, dan selama saya kuliah belum pernah ada yang pinjam dari kalangan laki-laki.
Atau ada juga peminjam yang merasa kebingungan dengan tulisan saya, lalu peminjam bertanya kepada saya apa maksud dari tulisan saya itu, untuk kasus yang satu ini biasanya saya sendiri yang bingung karena saya tidak bisa membaca tulisan saya sendiri.
Sebtulnya tulisan saya tidak jelek-jelek amat, karena kadang-kadang tulisan saya juga bagus, ini tergantung pada kondisi psikologis kali ya? Atau kondisi keuangan? Bisa juga mungkin karena faktor cuaca. Apapun alasannya yang penting tidak selamanya tulisan saya jelek, apalagi pada saat saya nulis di laptop hehe...
Ini Binder terakhirku yang masih saya pakai:

0 komentar:

Posting Komentar

Categories

Blog Archive